• Kampus Penelitian Pertanian Jl. Tentara Pelajar No.3C
  • (0251) 7565366
  • [email protected]
Logo Logo
  • Beranda
  • Profil
    • Overview
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Tugas & Fungsi
    • Pimpinan
    • Satuan Kerja
    • Sumber Daya Manusia
  • Informasi Publik
    • Portal PPID
    • Standar Layanan
      • Maklumat Layanan
      • Waktu dan Biaya Layanan
    • Prosedur Pelayanan
      • Prosedur Permohonan
      • Prosedur Pengajuan Keberatan dan Penyelesaian Sengketa
    • Regulasi
    • Agenda Kegiatan
    • Informasi Berkala
      • LHKPN
      • LHKASN
      • Rencana Strategis
      • DIPA
      • RKAKL/ POK
      • Laporan Kinerja
      • Capaian Kinerja
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Realisasi Anggaran
      • Laporan Tahunan
      • Daftar Aset/BMN
    • Informasi Serta Merta
    • Informasi Setiap Saat
      • Daftar Informasi Publik
      • Standar Operasional Prosedur
      • Daftar Informasi Dikecualikan
      • Kerjasama
  • Publikasi
    • Buku
    • Pedum/ Juknis
    • Infografis
    • Jurnal Hortikultura
      • Jurnal Hortikultura 2021
      • Jurnal Hortikultura 2022
  • Reformasi Birokrasi
    • Manajemen Perubahan
    • Deregulasi Kebijakan
    • Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
    • Penataan dan Penguatan Organisasi
    • Penataan Tata Laksana
    • Penataan Sistem Manajemen SDM
    • Penguatan Akuntabilitas
    • Penguatan Pengawasan
  • Layanan
Thumb
197 dilihat       14 Februari 2026

Mengenal Varietas Unggulan Sembalun, Fondasi Swasembada Bawang Putih Nasional

Upaya swasembada bawang putih nasional tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, tetapi terutama pada penguatan varietas benih lokal yang mampu beradaptasi dengan agroklimat Indonesia. Dalam konteks inilah Sembalun, Nusa Tenggara Barat, diposisikan sebagai salah satu fondasi sistem perbenihan bawang putih nasional.

Secara nasional, tantangan swasembada bawang putih masih cukup besar karena kesenjangan antara kebutuhan dan produksi dalam negeri masih sangat lebar. Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura (BRMP Hortikultura) Kementrian Pertanian, Inti Pertiwi Nashwari, menjelaskan kebutuhan bawang putih nasional saat ini mencapai sekitar 660 ribu ton per tahun, sementara produksi domestik yang benar-benar masuk ke pasar masih sangat terbatas.

Produksi dalam negeri yang mampu menyuplai pasar diperkirakan hanya sekitar 25 ribu ton per tahun. Kondisi ini membuat sebagian besar kebutuhan nasional masih dipenuhi melalui impor, dengan porsi terbesar berasal dari China.

Menurut Inti, dominasi impor tersebut tidak terlepas dari karakteristik tanaman bawang putih yang lebih optimal tumbuh di wilayah beriklim subtropis. China memiliki sistem budidaya bawang putih yang sudah berkembang secara masif dengan sebaran wilayah produksi yang luas.

Ia menilai faktor agroklimat menjadi kunci utama dalam produksi bawang putih. Tanaman ini membutuhkan kombinasi suhu relatif dingin dengan penyinaran matahari optimal, sehingga hanya dapat tumbuh maksimal di wilayah dengan karakteristik iklim tertentu.

“Bawang putih ini mempunyai karakteristik khusus dalam hal iklim untuk ditanam. Harus dingin, tapi juga mendapatkan penyinaran matahari penuh,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, kondisi tersebut hanya ditemukan di beberapa wilayah dataran tinggi tertentu, salah satunya Sembalun di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain Sembalun, wilayah lain yang memiliki kesamaan karakteristik antara lain Temanggung, Wonosobo, Magelang, Tawangmangu, Malang, Batu, Kerinci, Berastagi hingga Humbang Hasundutan.

Menurut Inti, wilayah-wilayah tersebut umumnya berada di kawasan pegunungan atau kaki gunung yang memiliki suhu relatif dingin namun tetap mendapatkan intensitas penyinaran matahari tinggi. Pengembangan bawang putih nasional ke depan pun diarahkan berbasis pemetaan kesesuaian agroklimat.

Selain faktor agroklimat, pengalaman panjang budidaya bawang putih di Sembalun juga menjadi pertimbangan strategis. Budidaya bawang putih di wilayah ini sudah berlangsung sejak sekitar 1940-an, ketika varietas bawang putih pertama kali dikembangkan karena dinilai cocok dengan kondisi iklim setempat.

Mengenal Varietas Bawang Putih Sangga Sembalun

Varietas bawang putih Sangga Sembalun merupakan varietas unggulan dataran tinggi yang berasal dari Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Varietas ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap agroklimat pegunungan, sehingga dinilai berpotensi mendukung pengembangan produksi sekaligus perbenihan bawang putih nasional.

Dari sisi umur tanaman, varietas Sangga Sembalun memiliki masa panen relatif sedang, yaitu sekitar 105 hingga 110 hari setelah tanam. Tanaman tumbuh dengan tinggi rata-rata 80 hingga 85 cm, dengan diameter batang semu berkisar 0,9 hingga 1,2 cm.

Secara morfologi, tanaman ini tidak memiliki kemampuan berbunga. Daunnya berbentuk silindris pipih berwarna hijau muda, dengan jumlah daun sekitar 11 hingga 12 helai per tanaman. Habitus tanaman tumbuh tegak dan serarak, yang menjadi salah satu karakter khas varietas ini.

Umbi bawang putih Sangga Sembalun berbentuk bulat telur, dengan bagian ujung agak runcing dan bagian dasar cenderung rata. Ukuran umbinya tergolong sedang, dengan diameter sekitar 4,5 hingga 5,5 cm dan panjang 3,4 hingga 4,5 cm. Warna umbi didominasi putih dengan semburat keunguan.

Dalam satu umbi umumnya terdapat sekitar 12 hingga 14 siung. Bentuk siung memanjang dengan ukuran panjang sekitar 2,3 hingga 2,7 cm dan lebar 1,2 hingga 1,3 cm, dengan warna putih keunguan.

Dari sisi sensori, varietas ini memiliki aroma yang relatif tidak terlalu tajam. Produktivitas rata-rata mencapai sekitar 8,75 ton per hektare dalam bentuk umbi kering, dengan tingkat susut bobot umbi sekitar 65 persen. Dalam aspek ketahanan penyakit, varietas ini tergolong cukup adaptif karena memiliki ketahanan relatif terhadap penyakit Alternaria sp dan Puccinia sp, sehingga cukup stabil untuk dibudidayakan di wilayah dataran tinggi.

Keunggulan bawang putih Sembalun juga didukung kondisi agroklimat wilayah. Petani bawang putih NTB, Haji Moh Kartip, mengatakan ketinggian wilayah sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut sangat mendukung pertumbuhan bawang putih secara optimal. Kondisi tersebut membuat karakter aroma bawang putih menjadi lebih khas dan tajam dibandingkan bawang putih dari wilayah lain.

“Kondisi produksi benih bawang putih di tingkat petani saat ini masih dalam tahap pengembangan. Petani sudah mampu memproduksi calon benih. Rata-rata riil hasil produksi tingkat petani 20–25 ton per hektare berat basah,” katanya kepada BataviaPos.id, Minggu (14/2/2026).

Meski demikian, Kartip mengakui masih terdapat sejumlah kendala teknis di tingkat petani. Penyakit busuk akar masih menjadi ancaman utama, disusul serangan hama seperti trips dan ulat grayak. Selain itu, kepastian pasar juga masih menjadi persoalan karena belum adanya jaminan penyerapan hasil panen secara berkelanjutan.

Peran Penyuluh dan Faktor Harga Jadi Penentu

Fungsional Penyuluh Pertanian Ahli Muda Kementerian Pertanian, Ria Rustiana mengatakan, penyuluh memiliki peran penting dalam pengembangan produksi benih bawang putih. Penyuluh aktif mendampingi petani mulai dari budidaya hingga pascapanen. Pendampingan ini membantu petani meningkatkan kemampuan teknis sehingga mampu menghasilkan benih berkualitas.

Menurutnya, minat petani menjadi produsen calon benih cukup tinggi. Salah satu faktor pendorongnya adalah harga benih yang lebih tinggi dibandingkan bawang putih konsumsi. Namun, kepastian pasar dan dukungan pemerintah tetap menjadi faktor kunci agar minat petani tetap stabil.

Ria juga menekankan bahwa faktor cuaca sangat memengaruhi kualitas benih. “Hujan ekstrem dapat menurunkan daya tumbuh benih dan meningkatkan risiko penyakit jamur. Sebaliknya, suhu panas ekstrem dapat meningkatkan populasi hama,” katanya kepada BataviaPos.id.

Plt Kepala UPT Pertanian Kecamatan Sembalun, M Kholis mengatakan, salah satu keunggulan bawang putih lokal Sembalun adalah aroma yang jauh lebih tajam dibandingkan bawang putih impor.

Namun, tantangan utama petani masih berada pada tahap pascapanen. Curah hujan tinggi sering mengganggu proses pengeringan, sehingga meningkatkan risiko pembusukan. Selain itu, keterbatasan lokasi pascapanen juga menjadi kendala karena pengeringan membutuhkan area luas.

Solusi yang diharapkan petani adalah teknologi pengering atau dryer agar kualitas panen tetap terjaga. Selain itu, serangan penyakit empul atau busuk akar juga menjadi ancaman serius karena dapat menyebabkan gagal panen.

Rekomendasi: Penguatan Sistem Benih Nasional

Sistem perbenihan bawang putih nasional masih menghadapi tantangan struktural yang kompleks, mulai dari aspek teknis budidaya hingga ekosistem produksi secara menyeluruh. Tantangan tersebut mencakup kesesuaian agroklimat, kesiapan infrastruktur, kapasitas petani, hingga kepastian pasar. Dalam kondisi kebutuhan nasional yang masih didominasi impor, penguatan sistem benih menjadi fondasi utama untuk membangun produksi bawang putih nasional yang berkelanjutan.

Keterbatasan wilayah produksi benih menjadi kendala utama karena bawang putih membutuhkan agroklimat spesifik, terutama suhu relatif rendah, ketinggian wilayah tertentu, serta stabilitas musim. Kondisi ini membuat produksi benih optimal hanya dapat dilakukan di wilayah dataran tinggi seperti Sembalun dan beberapa kawasan pegunungan lain di Indonesia. Karena itu, pengembangan produksi benih harus berbasis pemetaan kawasan yang benar-benar sesuai secara agroklimat.

Di sisi lain, perubahan iklim meningkatkan risiko gangguan produksi benih. Produksi benih membutuhkan stabilitas lingkungan lebih ketat dibandingkan produksi konsumsi. Curah hujan tinggi dan kelembapan udara dapat meningkatkan risiko penyakit seperti busuk akar, sementara suhu panas ekstrem dapat meningkatkan populasi hama yang berdampak pada kualitas serta daya tumbuh benih.

Tantangan juga muncul pada aspek pascapanen dan logistik benih. Produksi benih membutuhkan standar pengeringan dan penyimpanan yang lebih presisi dibandingkan bawang putih konsumsi. Namun, keterbatasan teknologi pengeringan dan kapasitas gudang penyimpanan masih menjadi kendala di banyak sentra produksi. Selain itu, struktur kepemilikan lahan petani yang relatif kecil juga menyulitkan penerapan standardisasi produksi dan pengawasan mutu secara merata.

Melihat kondisi tersebut, penguatan sistem benih nasional perlu dilakukan secara terintegrasi melalui penguatan riset varietas adaptif tropis, pembangunan kawasan benih berbasis agroklimat, peningkatan infrastruktur pascapanen, serta penyediaan jaminan harga dan kepastian pasar bagi petani penangkar benih. Pendekatan ini penting untuk memastikan produksi benih meningkat secara kuantitas sekaligus terjaga kualitasnya secara berkelanjutan.

Jika sistem benih nasional mampu diperkuat secara konsisten, maka kawasan seperti Sembalun tidak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga model pembangunan sistem pangan nasional berbasis kawasan. Pada akhirnya, penguatan sistem benih menjadi kunci untuk menekan ketergantungan impor, memperkuat posisi petani dalam rantai pasok pangan, sekaligus membangun fondasi kedaulatan pangan Indonesia dalam jangka panjang.

Penulis: Tuty Ocktaviany
Reviewer: Wahyono
 
Sumber: https://bataviapos.id/insight/mengenal-varietas-unggulan-sembalun-fondasi-swasembada-bawang-putih-nasional/
Prev Next

- BRMP Hortikultura


Pencarian

Berita Terbaru

  • Thumb
    Ketika Bawang Putih Menyingkap Nasib Para Peneliti yang Terombang-ambing
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Jejak Keemasan Balitbang Kementan: Antara Integrasi dan Harapan Riset yang Membumi
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Patahkan Stigma Petani Jorok dan Miskin, Kunci Regenerasi di RI
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Menjaga Sentuhan Lapangan: Dilema Sosial Budaya dalam Reformasi Riset Pertanian Nasional
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Menanam Kembali ‘Akar’ Penelitian Pertanian
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura

tags

BRMP BRMP Hortikultura Bawang Putih Kementan Kementerian Pertanian Swasembada Bawang Putih Swasembada Pangan agromodern

Kontak

(0251) 7565366
(0251) 7565366
[email protected]

Kampus Penelitian Pertanian
Jl. Tentara Pelajar No.3C, RT.01/RW.15,
Menteng, Bogor Barat, Bogor City,
West Java 16111

www.hortikultura.pertanian.go.id

© 2025 - 2026 Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura. All Right Reserved