BRMP Petakan 1,3 Juta Ha Lahan Cocok untuk Bawang Putih, Ini Sebarannya
Jakarta – BRMP Hortikultura memetakan 1,3 juta hektare lahan potensial bawang putih di 22 provinsi. Peta ini akan dipadukan dengan kondisi iklim.
Peta baru pengembangan bawang putih mulai disiapkan Kementerian Pertanian (Kementan).
Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) memetakan sekitar 1,3 juta hektare (ha) lahan yang memiliki potensi kesesuaian untuk pengembangan bawang putih di 22 provinsi.
Namun, angka 1,3 juta ha tersebut belum menjadi angka final lahan yang otomatis bisa ditanami bawang putih.
BRMP Hortikultura kini melakukan penyaringan lebih ketat dengan menggabungkan peta kesesuaian lahan dengan berbagai indikator iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Langkah ini dilakukan agar pengembangan bawang putih tidak sekadar berdasarkan luasan lahan, tetapi benar-benar diarahkan ke lokasi yang memiliki kombinasi kondisi tanah, status lahan, topografi, dan iklim yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Kepala Pusat BRMP Hortikultura Inti Pertiwi Nashwari mengatakan, pihaknya saat ini intensif berkoordinasi dengan BMKG untuk menyempurnakan peta tersebut.
“Nah, ini yang sedang kami lakukan adalah meng-overlay peta iklim seluruh indikator iklim yang dimiliki oleh BMKG,” ujar Inti.
Menurut dia, BRMP telah memiliki peta awal kesesuaian lahan bawang putih yang berasal dari BRMP Sumber Daya Lahan Pertanian (SDLP).
Dari pemetaan tersebut diperoleh potensi sekitar 1,3 juta ha.
Akan tetapi, angka tersebut masih harus ditapis.
BRMP ingin memastikan lahan yang nantinya masuk rekomendasi pengembangan benar-benar memenuhi kriteria teknis, termasuk dari aspek klimatologi.
"Kita sudah dapat tadi 1,3 juta, hampir sama dengan yang disampaikan Agung tadi karena memang dari SDLP. Tapi itu masih perlu kita tapis lagi,” katanya.
Penyaringan tidak hanya menyangkut iklim, BRMP Hortikultura juga memisahkan status dan karakteristik lahan, termasuk kawasan Areal Penggunaan Lain (APL), Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK), Hutan Produksi (HP), Hak Guna Usaha (HGU), maupun lahan non-HGU.
Kelerengan lahan juga menjadi salah satu parameter yang diperhitungkan.
Setelah penyaringan tersebut dilakukan, peta kesesuaian lahan kemudian akan dioverlay dengan peta iklim BMKG.
Tujuannya untuk mendapatkan lokasi yang lebih presisi bagi pengembangan bawang putih.
Sebelumnya, BRMP juga menjelaskan bahwa peta kesesuaian lahan saja belum cukup untuk menentukan keberhasilan pengembangan bawang putih.
Perubahan iklim dan keragaman kondisi agroklimat membuat aspek iklim perlu dimasukkan sebagai bagian penting dalam pemetaan.
Dalam proses pemetaan tersebut, sejumlah indikator iklim menjadi perhatian.
Di antaranya suhu udara, pola suhu siang dan malam atau day/night temperature regime, fotoperiode, radiasi matahari, curah hujan atau ketersediaan air, kelembapan udara, serta kecepatan angin.
Data BMKG sendiri menunjukkan bahwa informasi iklim dapat mencakup parameter seperti suhu, kelembapan, kecepatan angin dan radiasi matahari yang digunakan untuk menggambarkan kondisi iklim suatu wilayah.
Parameter tersebut penting karena bawang putih merupakan tanaman yang sangat dipengaruhi kondisi agroklimat.
Artinya, lahan yang secara fisik terlihat cocok belum tentu menjadi lokasi paling optimal apabila kondisi iklimnya tidak mendukung.
“Jadi mohon waktu, semoga awal bulan depan kami bisa selesaikan peta ini sehingga nanti bisa kami sampaikan ke Direktorat Jenderal Hortikultura sebagai pengambil kebijakan,” kata Inti.
Dengan peta yang lebih detail, pemerintah diharapkan dapat menentukan lokasi pengembangan sekaligus penempatan dukungan program secara lebih tepat.
“Akurasi penempatan bantuan pemerintah pengembangan bawang putih ini presisi. Ada lokasi-lokasi yang memang potensi keberhasilan ini tinggi karena punya kesesuaian terhadap aspek-aspek yang sudah kita identifikasi,” ujarnya.
Pendekatan berbasis peta ini juga menjadi bagian dari strategi modernisasi pertanian.
Pemerintah tidak hanya mengejar perluasan areal, tetapi berupaya memastikan ekspansi dilakukan pada wilayah yang memiliki peluang keberhasilan lebih besar.
Berdasarkan peta kesesuaian lahan BRMP SDLP yang sedang ditapis BRMP Hortikultura, potensi lahan bawang putih tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Di Pulau Sumatera, potensi lahan antara lain berada di Aceh dengan luas sekitar 93.393 ha. Wilayah yang masuk antara lain Aceh Besar, Aceh Tengah, Aceh Utara, Gayo Lues dan Nagan Raya.
Sumatera Barat memiliki sekitar 48.621 ha, meliputi Agam, Kota Bukittinggi, Lima Puluh Kota, Pasaman, Solok, Solok Selatan dan Tanah Datar.
Bengkulu tercatat sekitar 17.211 ha, antara lain Kepahiang, Lebong dan Rejang Lebong.
Sementara Sumatera Utara menjadi salah satu wilayah dengan hamparan potensi terbesar, yakni sekitar 489.367 ha.
Wilayahnya mencakup Asahan, Dairi, Deli Serdang, Humbang Hasundutan, Mandailing Natal, Pakpak Bharat, Samosir, Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara dan Toba.
Di Jambi, potensi lahan mencapai sekitar 40.921 ha, terutama di Kerinci, Sungai Penuh dan Merangin.
Sumatera Selatan sekitar 32.368 ha, mencakup Empat Lawang, Kota Pagar Alam, Lahat, Muara Enim dan Ogan Komering Ulu Selatan.
Lampung memiliki sekitar 21.272 ha, antara lain Lampung Barat, Pesisir Barat dan Tanggamus.
Di Pulau Jawa, Jawa Barat tercatat sekitar 74.562 ha, sedangkan Jawa Tengah sekitar 39.381 ha. Jawa Timur sekitar 14.128 ha.
Untuk Jawa Barat, wilayah yang masuk pemetaan antara lain Bandung, Bandung Barat, Cianjur, Garut, Kota Bandung, Kota Cimahi, Majalengka dan Tasikmalaya.
Jawa Tengah mencakup Banjarnegara, Batang, Boyolali, Karanganyar, Kendal, Magelang, Pekalongan, Pemalang, Temanggung dan Wonosobo.
Sementara di Jawa Timur, wilayah yang masuk antara lain Bondowoso, Jember, Kota Batu, Lumajang, Magetan, Malang, Mojokerto, Ponorogo, Probolinggo dan Situbondo.
Di luar Jawa dan Sumatera, potensi lahan juga tersebar cukup luas.
Sulawesi Tengah tercatat sekitar 54.015 ha, sedangkan Sulawesi Selatan sekitar 47.502 ha. Sulawesi Barat sekitar 17.894 ha, sementara Sulawesi Utara sekitar 7.663 ha.
Kalimantan Utara memiliki sekitar 11.019 ha, Kalimantan Timur sekitar 7.414 ha, dan Bali sekitar 7.517 ha.
Wilayah Nusa Tenggara juga masuk dalam peta, yakni Nusa Tenggara Barat sekitar 1.141 ha dan Nusa Tenggara Timur sekitar 30.278 ha.
Di kawasan Papua, Papua Pegunungan menjadi salah satu wilayah dengan luasan potensi terbesar, yakni sekitar 279.988 ha, antara lain Jayawijaya dan Yahukimo. Papua Tengah sekitar 8.922 ha, sedangkan Papua Barat sekitar 4.153 ha.
BRMP menegaskan, angka 1,3 juta ha tersebut merupakan hasil pemetaan kesesuaian lahan dan masih dalam proses penapisan.
Setelah dipadukan dengan indikator iklim serta status dan kondisi lahan, diharapkan muncul peta yang lebih presisi mengenai lokasi pengembangan bawang putih.
Langkah tersebut menjadi penting karena pemerintah tengah memperkuat fondasi produksi bawang putih dalam negeri.
Dalam peta jalan pengembangan bawang putih yang disampaikan BRMP, target luas tanam nasional pada 2029 mencapai 106.000 ha, dengan target produksi bawang putih konsumsi 966.000 ton.
Kebutuhan bawang putih nasional juga masih besar. BRMP sebelumnya menyebut kebutuhan nasional berada di kisaran 667.943 ton per tahun, mencakup kebutuhan rumah tangga, hotel-restoran-katering, industri dan benih.
Karena itu, pemetaan lahan menjadi salah satu fondasi penting sebelum program perluasan dilakukan.
BRMP Hortikultura bersama BMKG kini berupaya mengubah peta tersebut dari sekadar informasi luasan menjadi instrumen pengambilan keputusan.
Lokasi yang nantinya masuk rekomendasi diharapkan bukan hanya memiliki lahan yang sesuai, tetapi juga iklim yang mendukung.
Dengan demikian, peta 1,3 juta ha tersebut menjadi semacam “saringan awal”.
Setelah melewati penyaringan status lahan, karakteristik fisik, kelerengan dan indikator klimatologi, pemerintah akan memperoleh gambaran yang lebih tajam mengenai lokasi mana yang paling sesuai untuk dikembangkan menjadi kawasan bawang putih.
Bagi petani, pendekatan ini juga berpotensi memberikan kepastian lebih besar karena pengembangan diarahkan berdasarkan karakteristik wilayah, bukan semata-mata berdasarkan ketersediaan lahan.
Peta final tersebut ditargetkan selesai pada awal bulan depan dan selanjutnya akan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Hortikultura untuk menjadi bahan pengambilan kebijakan pengembangan bawang putih nasional.