Tingkatkan Mutu dan Daya Saing Anggrek Phalaenopsis BRMP Hortikultura Sosialisasikan SNI 7990-2:2024
Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura (BRMP Hortikultura) menyelenggarakan Sharing Session SNI Hortikultura bertajuk SNI 7990-2:2024 Anggrek Pot Bagian 2: Phalaenopsis Hibrida pada Jumat (30/10/2026) secara virtual. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini dilaksanakan melalui Zoom dan turut ditayangkan melalui kanal YouTube BRMP Hortikultura sebagai upaya penyebarluasan informasi standardisasi kepada masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala BRMP Hortikultura, Dr. Inti Pertiwi Nashwari, S.P., M.Si., serta dimoderatori oleh Wisnu Ardi Pratama, S.P., M.Si. Peserta yang hadir berasal dari beragam kalangan, mulai dari pelaku usaha florikultura, komunitas anggrek, pemerintah daerah, akademisi, peneliti, penyuluh, hingga masyarakat umum yang memiliki minat terhadap tanaman hias, khususnya anggrek Phalaenopsis.
Dalam arahannya, Dr. Inti Pertiwi Nashwari menyampaikan bahwa anggrek Phalaenopsis merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang memiliki nilai estetika tinggi sekaligus peluang ekonomi yang besar. Tingginya minat pasar terhadap anggrek ini, menurutnya, perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai standar mutu yang baik agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten dan memiliki daya saing yang semakin kuat.
Kepala Pusat menegaskan bahwa Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi instrumen penting dalam meningkatkan mutu produk, memberikan kepastian kualitas, serta memperkuat posisi anggrek Indonesia di pasar nasional maupun internasional. Melalui kegiatan ini, BRMP Hortikultura juga mendorong agar pemahaman terhadap dokumen SNI tidak berhenti pada tataran teori, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam praktik produksi, pengemasan, dan pemasaran oleh para pelaku usaha.
Materi utama disampaikan oleh Dr. Dedeh Kurniasih, S.P., M.Si. dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Hias (BRMP Tanaman Hias). Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa SNI 7990-2:2024 merupakan revisi dari SNI 7990-2:2014 dan telah ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) pada tahun 2024. Ia juga menekankan bahwa hingga saat ini penerapan SNI tersebut masih bersifat sukarela, namun tetap penting sebagai acuan teknis mutu produk.
Menurut Dr. Dedeh, penyusunan standar ini bertujuan untuk memudahkan transaksi perdagangan, melindungi konsumen, produsen, dan pelaku usaha, serta menyediakan dasar untuk pengujian dan sertifikasi mutu. Dalam revisi terbaru, terdapat sejumlah penyesuaian penting, antara lain pada ruang lingkup, acuan normatif, istilah dan definisi, pengkelasan, persyaratan mutu, metode pengujian, pengemasan, penandaan, pelabelan, hingga penambahan lampiran untuk memperjelas isi standar.
Ia menjelaskan bahwa ruang lingkup SNI ini mencakup anggrek pot Phalaenopsis hibrida tipe standar, novelty, multiflora, dan mini. Produk kemudian diklasifikasikan ke dalam tiga kelas mutu, yaitu super, premium, dan standar, berdasarkan parameter tertentu seperti jumlah kuntum, jumlah daun, jumlah cabang, jumlah spike, diameter kuntum, dan tinggi pangkal spike sesuai tipe masing-masing. Selain itu, pelabelan pada kemasan sekurang-kurangnya memuat nama dan alamat produsen, tipe bunga, kelas mutu, serta jumlah tanaman.
Pada sesi diskusi, peserta juga menyoroti aspek penerapan SNI di lapangan. Menanggapi pertanyaan peserta, Dr. Dedeh menjelaskan bahwa penerapan SNI dapat dibuktikan melalui proses penilaian kesesuaian dan sertifikasi. Produsen yang telah memenuhi persyaratan sertifikasi dapat mengajukan persetujuan penggunaan tanda SNI kepada Badan Standardisasi Nasional (BSN), sehingga produknya dapat mencantumkan tanda SNI sesuai ketentuan yang berlaku. Ia juga menjawab pertanyaan teknis terkait budidaya Phalaenopsis, antara lain kebutuhan naungan, kelembapan, suhu optimal, sanitasi lingkungan, serta langkah pengendalian hama dan penyakit agar kualitas tanaman tetap terjaga.
Melalui kegiatan ini, BRMP Hortikultura berharap para pelaku usaha dan pemangku kepentingan semakin memahami pentingnya standardisasi dalam pengembangan florikultura nasional. Sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk mendorong usaha anggrek yang lebih profesional, menghasilkan produk berkualitas, serta meningkatkan nilai tambah dan daya saing anggrek Indonesia.