• Kampus Penelitian Pertanian Jl. Tentara Pelajar No.3C
  • (0251) 7568709
  • [email protected], [email protected]
Logo Logo
  • Beranda
  • Profil
    • Overview
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Tugas & Fungsi
    • Pimpinan
    • Satuan Kerja
    • Sumber Daya Manusia
  • Informasi Publik
    • Portal PPID
    • Standar Layanan
      • Maklumat Layanan
      • Waktu dan Biaya Layanan
    • Prosedur Pelayanan
      • Prosedur Permohonan
      • Prosedur Pengajuan Keberatan dan Penyelesaian Sengketa
    • Regulasi
    • Agenda Kegiatan
    • Informasi Berkala
      • LHKPN
      • LHKASN
      • Rencana Strategis
      • DIPA
      • RKAKL/ POK
      • Laporan Kinerja
      • Capaian Kinerja
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Realisasi Anggaran
      • Laporan Tahunan
      • Daftar Aset/BMN
    • Informasi Serta Merta
    • Informasi Setiap Saat
      • Daftar Informasi Publik
      • Standar Operasional Prosedur
      • Daftar Informasi Dikecualikan
      • Kerjasama
  • Publikasi
    • Buku
    • Pedum/ Juknis
    • Infografis
    • Jurnal Hortikultura
      • Jurnal Hortikultura 2020
      • Jurnal Hortikultura 2021
      • Jurnal Hortikultura 2022
      • Jurnal Hortikultura 2019
  • Reformasi Birokrasi
    • Manajemen Perubahan
    • Deregulasi Kebijakan
    • Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
    • Penataan dan Penguatan Organisasi
    • Penataan Tata Laksana
    • Penataan Sistem Manajemen SDM
    • Penguatan Akuntabilitas
    • Penguatan Pengawasan
  • Layanan
Thumb
8 dilihat       21 September 2026

Swasembada Bawang Putih Dikebut, BRMP Ungkap 4 Pilar Strategi

JAKARTA – Swasembada bawang putih bukan perkara mudah. Varietas tua hingga dormansi benih jadi tantangan. BRMP Hortikultura menyiapkan 4 pilar strategi. Pemerintah terus mempercepat langkah menuju swasembada bawang putih nasional dengan membenahi sejumlah persoalan mendasar, mulai dari peremajaan varietas, penyediaan benih bermutu, pemetaan lahan, hingga pengembangan teknologi budidaya dan pascapanen.

Kepala Pusat BRMP Hortikultura, Inti Pertiwi Nashwari, mengatakan percepatan swasembada bawang putih membutuhkan strategi yang dilakukan secara terintegrasi.  Sedikitnya terdapat empat pilar yang perlu diperkuat, yakni varietas unggul adaptif, pemetaan kawasan dan kesesuaian lahan, teknologi perbenihan, serta teknologi budidaya dan pascapanen. Menurut Inti, persoalan varietas menjadi salah satu tantangan yang harus segera ditangani. Pasalnya, masih terdapat varietas bawang putih yang digunakan petani hingga saat ini meski telah dilepas sejak dekade 1980-an hingga awal 1990-an. “Bayangkan sudah berapa tahun varietas itu. Yang pelepasannya sudah tahun 1980-an saat ini masih ditanam,” ujar Inti.

Penggunaan varietas lama dalam jangka panjang, menurut dia, berpotensi berdampak terhadap produktivitas. Karena itu, pengembangan varietas baru dengan keunggulan produktivitas sekaligus kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim menjadi kebutuhan penting. Tantangan adaptasi terhadap perubahan iklim juga tidak bisa diabaikan. Bawang putih merupakan komoditas yang relatif sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Perubahan iklim yang sedikit saja dapat memengaruhi pertumbuhan dan kualitas hasil. Karena itu, BRMP Hortikultura mendorong pengembangan varietas yang tidak hanya berproduksi tinggi, tetapi juga lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan yang semakin dinamis.

Pilar kedua adalah pengembangan kawasan berbasis kesesuaian lahan. Inti menyebut terdapat potensi lahan sekitar 1,2 juta hektare yang sedang diperbarui pemetaannya untuk melihat lokasi yang benar-benar sesuai bagi pengembangan bawang putih. Pembaruan peta tersebut dilakukan bersama sejumlah pihak, termasuk tim yang memiliki keahlian dalam sumber daya lahan dan pemetaan kesesuaian lahan.  Parameter yang digunakan tidak hanya melihat kondisi tanah, tetapi juga indikator iklim, topografi, kemiringan lereng dan faktor lain yang menentukan keberhasilan budidaya. “Ini akan sangat bermanfaat bagi Direktorat Jenderal Hortikultura untuk memilih lokasi-lokasi yang memang sudah masuk ke dalam peta kesesuaian lahan bawang putih,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kawasan tidak hanya berdasarkan ketersediaan lahan, tetapi diarahkan pada lokasi yang secara agroekologi memang sesuai. Langkah ini diharapkan dapat menekan risiko kegagalan budidaya sekaligus meningkatkan produktivitas. Pilar ketiga menyangkut penguatan teknologi perbenihan.  Inti mengapresiasi riset yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendukung pengembangan teknologi bawang putih.

BRMP Hortikultura juga tengah melakukan kajian terhadap benih sumber bawang putih. Hasil penelitian tersebut nantinya diarahkan untuk menghasilkan standar operasional prosedur (SOP) budidaya yang dapat menjadi acuan bagi petani. Ketersediaan benih menjadi sangat penting karena peningkatan luas tanam tanpa dukungan benih bermutu berisiko tidak menghasilkan kenaikan produktivitas yang optimal. Data BRMP Sayuran menunjukkan, pada 2026 pemerintah menargetkan produksi benih sumber bawang putih di lima provinsi. 

Target tersebut meliputi Jawa Tengah seluas 85 hektare dengan produksi 340 ton, Jawa Barat 12 hektare atau 48 ton, Jawa Timur 6 hektare atau 24 ton, Sumatera Utara 3 hektare atau 12 ton, dan Sumatera Barat 5 hektare atau 20 ton. Pilar keempat adalah pengembangan teknologi budidaya serta pascapanen, termasuk upaya mempercepat masa dormansi benih bawang putih. Inti menjelaskan, bawang putih memiliki karakter berbeda dengan bawang merah. 

Setelah dipanen, bawang putih membutuhkan masa dormansi sebelum dapat digunakan sebagai benih untuk pertanaman berikutnya.  Masa dormansi tersebut dapat mencapai sekitar empat bulan. “Bagaimana masa dormansi yang sekarang bisa paling cepat empat bulan, misalkan kita percepat menjadi satu bulan? Bayangkan kalau itu bisa kita lakukan. Itu akan mempercepat ketersediaan benih yang ada di Indonesia,” jelasnya. Karena itu, BRMP Hortikultura mulai menggandeng tim pascapanen untuk melakukan penelitian guna memperpendek masa dormansi. BRIN juga tengah melakukan riset dengan arah yang sama. Percepatan teknologi tersebut dinilai penting karena persoalan bawang putih bukan hanya terletak pada luas tanam, tetapi juga kecepatan menyediakan benih berkualitas untuk musim tanam berikutnya. Urgensi percepatan produksi dalam negeri terlihat dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan impor. 

Berdasarkan proyeksi neraca pangan bawang putih 2025, produksi dalam negeri diperkirakan hanya 55.660 ton, sedangkan impor mencapai 621.157 ton. Kebutuhan nasional diproyeksikan 653.408 ton. Data tersebut menunjukkan bahwa impor masih menjadi komponen terbesar dalam pasokan bawang putih nasional. Pemerintah pun telah memperkuat kebijakan pengembangan komoditas strategis tersebut. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2026 antara lain mengatur pengembangan kawasan bawang putih serta kewajiban pelaku usaha importir untuk menghasilkan produksi paling sedikit 10 persen dari volume penetapan rencana kebutuhan sesuai neraca komoditas. Kementerian Pertanian sebelumnya menyatakan target swasembada bawang putih diarahkan tercapai dalam tiga tahun melalui pembangunan ekosistem dari perbenihan hingga pemasaran.

Dengan demikian, percepatan swasembada bawang putih tidak cukup hanya melalui perluasan areal. Pemerintah perlu memastikan empat fondasi berjalan bersamaan: varietas baru yang produktif dan adaptif, kawasan berbasis kesesuaian lahan, benih bermutu dengan teknologi perbenihan yang semakin cepat, serta teknologi budidaya dan pascapanen. Inti berharap penguatan riset dan teknologi tersebut dapat mempercepat penyediaan benih sekaligus meningkatkan produktivitas bawang putih nasional. Dengan fondasi tersebut, upaya mengurangi ketergantungan impor dan membangun produksi bawang putih yang lebih mandiri dapat dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

Sumber : https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/horti/28110-Swasembada-Bawang-Putih-Dikebut-BRMP-Ungkap-4-Pilar-Strategi

 

Prev Next

- sontanu


Pencarian

Berita Terbaru

  • Thumb
    Tak Cuma Soal Benih, Ini Dukungan BRMP Hortikultura untuk Swasembada Bawang Putih
    22 Sep 2026 - By sontanu
  • Thumb
    RI Kejar Swasembada Bawang Putih, 8 Masalah Ini Jadi Tantangan
    18 Sep 2026 - By sontanu
  • Thumb
    Hari Pertama Ratek I, Komtek 65-15 Hortikultura Bahas RSNI Lengkeng dan Mawar Potong
    15 Sep 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Perkuat Rantai Nilai Mangga Gedong Gincu Indramayu melalui Kolaborasi
    11 Sep 2026 - By BRMP Hortikultura

tags

Swasembada Bawang Putih

Kontak

(0251) 7568709
(0251) 7568709
[email protected], [email protected]

Kampus Penelitian Pertanian
Jl. Tentara Pelajar No.3C, RT.01/RW.15,
Menteng, Bogor Barat, Bogor City,
West Java 16111

www.hortikultura.pertanian.go.id

© 2025 - 2026 Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura. All Right Reserved